Rabu, 22 November 2017

Dr. Dewi Utama Faizah (Penulis Konsultan UNESCO)

Dr. Dewi Utama Faizah (Penulis  Konsultan UNESCO)

Melayu Online : Tradisi, Inovasi, Membangun Peradaban Sejati.

Sungguh sebuah kegirangan ”bercampur debaran” saat saya diminta menggoreskan berpatah-patah kata, yang mungkin saja menjadi patah-patahan kalimat tak bermakna karena diminta sangat ”dadakan”.

Saya mencoba mengingat-ingat segala yang patut selama sepuluh tahun perjalanan persahabatan saya dan MAM dengan segala kemungkinan, kemalangan, keberuntungan, dialog-dialog panjang, ke-seia-sekataan, perbedaan-perbedaan, pekerjaan-pekerjaan, dan berbagai ujian hidup lainnya yang tidak berkesudahan.

Segala sesuatu itu tidak sekali lecut menjadi, tidak sekali tiba datangnya. Bukan juga karena ada emas kemas, karena ada pitih menjadi. Segalanya berproses, mengalami pencelupan rupa yang senantiasa berubah dan bermakna. Sebuah proses yang baik senantiasa mencari co-spirito agar mampu meraih “essence of human beings” yang mampu menyentuh semangat untuk senantiasa berlari kencang mengejar kebajikan-kebajikannya...

Lunyah lah lunyah sawah teruka

Persemaian benih rang muda-muda

Suburlah Melayu generasi kita

Kelak dapat mengubah dunia

Mempertahankan keberadaan budaya Melayu di rantau oleh seorang “pemimpi besar” yang merantau di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan pekerjaan yang sangat besar. Ia mampu membangun kembali rumah Melayu yang doyong dalam tatanan peradaban global di hamparan semesta jagat dengan mengandalkan situs-situs modern. Keberadaan budaya Melayu bukan hanya diwujudkan dalam artifak-artifak belaka, namun lebih terfokus pada pemikiran akal pekerti yang mengukir fi’il kehidupan manusia. Rumpun kemuliaan itulah yang menghiasi situs Melon dalam aneka adat-istiadat dan aksesorisnya dalam nilai-nilai “harta karun Melayu” sebagai warisan berharga yang terkadang terlupa dijaga, yang kian lama kian memudar dari kebiasaan orang-orang Melayu yang hidup di kekinian dan di masa depan.

Sebagai ”padusi” Melayu yang dilahirkan dan dibesarkan di ranah Minang, saya mungkin akan menjadi generasi terakhir seperti yang sering dikiaskan Kanda Bestari Mahyudin Al Mudra. Sawah ladang harta pusaka yang turun-temurun sudah dipenuhi rumput dan ilalang. Pematang sawah yang menjadi titian berlari sudah menjadi jalan kehidupan masa lalu. Lesung alu penumbuk padi yang menjadi tempat persinggahan hati telah tidak lagi berbekas. Membolak-balik padi dalam lesung, menampi memisahkan beras dari sekam sambil mendengar aneka dongeng andung-andung nenek moyang kami telah sayup-sayup bekas suaranya. Saya tidak mampu lagi mengajarkan anak-anak dapat lincah menyunting kepalanya berhiaskan bunga rumput yang subur di kebun dan sawah. Rumput dan tanaman, bukan lagi permainan yang mengasyikkan mereka.

Pola pengasuhan telah pula berganti rupa. Dongeng dan kisah (verbal arts) tentang peri, anak manusia, dan hewan tidak mampu lagi memicu fantasi dan imajinasi belia. Andung dan bunda kewalahan mengukir nilai-nilai kebajikan dalam pengembaraan buah hati mereka. Pengembaraan di masa kecil bukan lagi pada alam semesta, telah bertumpu pada layar kaca , dan sekolah yang terkesan menjadi penjara. Nilai-nilai budaya yang bertaburan di kehidupan bersama dan di alam yang terkembang di jagad raya tak mampu lagi berhimpun menjadi guru di kepala dan hati mereka. Akankah kita mampu melahirkan generasi bermartabat seperti yang dilahirkan era Melayu di abad 19 dan 20-an? Sebutlah mereka Tan Malaka, Agus Salim, Hamka, St.Takdir Alisyahbana, Marah Rusli, Rasuna Said, Chairil Anwar, Hatta, dan M. Syafei?

Inilah kemudian yang akan menjadi tugas berat Kanda Mahyudin dan Melon mulai hari ini ke depan dalam aksinya “Building a Global Civic Culture”. Indonesia yang memiliki jumlah suku yang paling beragam di dunia, yaitu lebih kurang 3000 kelompok etnis yang tersebar dari Sabang hingga Merauke merupakan suatu realitas yang mesti dapat dicarikan jalan keluarnya. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa antara nilai-nilai kebajikan (values), budaya dan pendidikan terdapat hubungan yang significant. Faktor budaya, nilai-nilai Melayu yang berlaku, dan ciri khas watak masyarakat Melayu sebagai bagian dari mikrokultur-mikrokultur yang ada akan menentukan nasib bangsa Indonesia ini ke depan.

Tapi saya yakin dan percaya. Seseorang yang mengaji dari Alif, yang membaca dari hati, yang berhitung dari asa, akan senantiasa belajar menjadi sosok yang arif dan bijaksana. Ia tahu kemana biduk akan berlayar, sekali pun mungkin taufan badai menghalanginya. Seorang Mahyudin Al Mudra bagaikan laksamana yang tengah berada di samudera peradaban.....

Selamat berulang Tahun Melon, Melon bukanlah Indon!

Kanda Bestari Mahyudin Al Mudra, jadilah ....

“ Kayu rindang di tengah kota Jogja, ureknyo tampek baselo, batangnyo tampek basanda, dahannyo tampek bagantuang, daunnyo perak suaso, bungonya ambiak ka suntiang, buahnyo buliah dimakan, tampek bataduah katiko hujan, tampek balinduang katiko paneh, pai tampek batanyo, pulang tampek babarito, manyalasaikan nan kusuik, manjaniahkan nan karuah....”

Salam buat semua komunitas Melon

Dr. Dewi Utama Faizah (Penulis - Konsultan UNESCO)

Padusi Minang generasi terakhir

Cibubur, 17 Januari 2008

Dibaca : 1531

14
Sahabat online

Hari ini : 380 Kemarin : 187 Minggu kemarin : 1.180 Bulan kemarin : 3.695

Anda pengunjung ke :
306.960

© 2010. All rights reserved.