Rabu, 22 November 2017

Kemelayuan dan Keislaman di Indonesia

Kemelayuan dan Keislaman di Indonesia.

Pendahuluan

Budaya Melayu sebagai salah satu kebudayaan di Indonesia telah memberi sumbangan yang sangat luas bagi pembentukan karakter dan budaya masyarakat Indonesia secara umum. Meskipun demikian, dalam perjalanan sejarah panjang Indonesia, sumbangan budaya Melayu terasa dilupakan di tengah-tengah arus pembangunan yang dikembangkan oleh pemerintah Orde Baru. Pada masa itu Budaya Melayu mengalami peminggiran dan orang lebih terpesona pada budaya global yang kosmopolitan. Pada tahun 1998, Indonesia mengalami reformasi sistem pemerintahan, yaitu dari sistem pemerintahan sentralistik menjadi sistem pemerintahan desentralistik. Di era ini otonomi daerah merupakan solusi untuk menyelesaikan ketegangan antara pusat dan daerah pada masa pemerintahan Orde Baru. Reformasi politik ini juga memberikan peluang yang sangat luas kepada Melayu untuk berkembang dan menemukan ruang untuk merajut kembali berbagai budaya Melayu yang terserak di seluruh kepulauan di Indonesia.

Merajut kembali budaya Melayu yang terserak bukanlah hal yang mudah, hal ini disebabkan oleh posisi budaya Melayu yang terpinggirkan dalam perjalanan sejarah Indonesia, sehingga sumber daya Melayu menjadi relatif rendah dalam dunia global. Orang-orang Melayu kurang mempunyai kemampuan untuk bersaing dalam memanfaatkan peluang-peluang yang disediakan oleh reformasi. Terbukanya peluang untuk mengatur hidupnya sendiri tidak diimbangi oleh kemampuan untuk memanfatkan peluang tersebut, namun justru menjadikan masyarakat Melayu cenderung bersikap primordial (kedaerahan). Primordialisme ini sesungguhnya merupakan respon negatif terhadap kosmopolitanisme karena tidak adanya kemampuan orang Melayu untuk meletakkan dirinya dalam kancah global. Dalam konteks Indonesia, hal ini tampak dari penggunaan isu putra daerah dalam setiap suksesi kepemimpinan daerah. Berkembangnya sikap seperti ini, pada satu sisi dapat dilihat sebagai munculnya kesadaran orang Melayu untuk mengurus dirinya sendiri, tetapi pada sisi yang lain merupakan sikap yang bertentangan dengan karakter orang-orang Melayu yang inklusif. Masyarakat Melayu, dengan primordialismenya, tampak ragu untuk berhadapan dengan dunia global. Tentu saja jika hal ini berlarut-larut, maka berat sekali jika harus merajut kemelayuan nusantara.

Meningkatnya sikap primordial di kalangan masyarakat Melayu pasca-reformasi 1998, merupakan fenomena yang harus disikapi secara cerdas dan arif. Sikap primordial merupakan penghalang orang-orang Melayu untuk berhubungan dengan pihak-pihak lain. Padahal dalam era globalisasi seperti ini, tindakan mengisolasi diri (eksklusif) merupakan sikap -- yang justru-- merugikan budaya Melayu itu sendiri. Bukankah kejayaan budaya Melayu masa lalu tercapai oleh masyarakat Melayu yang senantiasa terbuka terhadap kebudayaan-kebudayaan lain di dunia? Di jaman dahulu, masyarakat dan budaya Melayu mampu bernegosiasi dan bersinergi dengan budaya Hindu Budha dari India, Budaya Cina, dan kemudian Budaya Timur Tengah yang membawa ajaran Islam yang diterima secara luas di kalangan melayu karena sesuai dengan karakter inklusif masyarakat Melayu.

Inklusivisme: Karakter Dasar Melayu


Inklusivisme merupakan karakter dasar orang-orang Melayu. Karakter ini merupakan jati diri dari orang-orang yang tinggal di jalur transportasi baik air maupun darat. Masyarakat Melayu pada zaman dahulu hidup dan membangun kebudayaannya dengan menempati kawasan pantai, laut dan tepi aliran sungai. Di ranah inilah mereka mengembangkan kebudayaan dan peradaban yang berkarakter terbuka yang pada akhirnya mengantarkan Melayu meraih masa kejayaan. Masyarakat Melayu di jaman itu mampu menumbuhkembangkan budaya Melayu yang memiliki keragaman karena mereka bertemu, bersinergi, bernegosiasi dan berkompromi dengan berbagai macam bentuk kebudayaan yang memanfaatkan jalur transportasi air.

Tempat hidup orang-orang Melayu di pinggir laut dan sungai, memungkinkan mereka bersentuhan dengan orang-orang dari seluruh penjuru dunia, baik yang secara khusus datang ke kawasan Melayu atau sekedar menjadikan kawasan Melayu sebagai daerah singgahan sebelum menuju daerah lain. Kondisi ini menyebabkan Melayu tidak saja bersikap terbuka terhadap kebudayaan lain, tetapi juga secara aktif menyerap kebudayaan-kebudayaan pendatang tersebut. Kemampuan Melayu untuk menyerap kebudayaan dari luar merupakan sikap dasar Melayu yang menjadi pemicu bagi Melayu untuk membangun peradabannya. Selain itu mereka juga memanfaatkan jalur transportasi darat untuk memberi pengaruh pada masyarakat pedalaman secara ekonomi dan budaya. Pada masa kejayaan Islam di Melayu, budaya Melayu memberi sumbangan terhadap integrasi ekonomi dan budaya masyarakat pedalaman secara meluas. Tinjauan historis tersebut secara jelas menunjukkan bagaimana Melayu mempunyai daya serap yang tinggi terhadap unsur kebudayaan luar pada satu sisi, dan mendayagunakan hasil penyerapan tersebut bagi pembangunan tamadun Melayu pada sisi yang lain.

Akibat dari primordialisme melayu, yang sesungguhnya merupakan respon negatif terhadap fenomena global, maka apa yang disebut Melayu sekarang ini selalu diidentifikasi sebagai masyarakat Islam yang berada di wilayah Sumatra, Semenanjung dan Kalimantan. Padahal fakta historis menyataan bahwa apa yang disebut kebudayaan Melayu adalah sebuah produk dari hasil pertemuan antara Melayu dengan kebudayaan-kebudayaan pendatang. Secara garis besar, kebudayaan pendatang yang ikut terlibat dalam pembentukan kebudayaan Melayu adalah: kebudayaan pra Hindu-Buddha; kebudayaan India yang beragama Hindu-Buddha; kebudayaan China yang beragama konfusianisme kebudayaan Timur Tengah yang beragama Islam; dan kebudayaan Barat yang beragama Kristen dan Katolik melalui kolonialisme. Ini adalah fenomena global yang tak dapat dipungkiri.

Kelima kebudayaan yang berasal dari daratan Asia Selatan, Asia Tengah, Timur Tengah dan Eropa tersebut mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan kebudayaan Melayu. Tentu saja pengaruh masing-masing kebudayaan tidak sama. Namun demikian, sekecil apapun pengaruh tersebut kita tidak bisa mengabaikannya karena dapat memutus mata rantai sejarah perkembangan Melayu.

Pertama, masa pra Hindu-Buddha. Pada masa ini, masyarakat Melayu telah menganut sistem kepercayaan animisme dan dinamisme. Hal ini dapat dilihat dari patung-patung, palungan-palungan tempat menyimpan tengkorak, menhir-menhir untuk menghormati arwah nenek moyang, dan lain-lain. Selain aspek religiusitas, kelompok Melayu ini telah mengenal sistem bercocok tanam, dan telah mampu membuat peralatan dari logam. Bukti dari jaman ini di antaranya dapat dilihat di situs-situs yang berada di kawasan provinsi Jambi, seperti Situs Muak, Situs Jujun, Situs Kerinci, dan lain sebagainya. Di situs-situs tersebut ditemukan antara lain Batu Menhir (2000 SM), Batu Bergambar Manusia, dan lain sebagainya.

Kedua, pengaruh kebudayaan India yang beragama Hindu dan Buddha. Peradaban Melayu memasuki babak baru ketika masyarakat Melayu kuno menjalin hubungan dengan bangsa India. Pertemuan dengan India tidak saja menjadikan Melayu menganut agama Hindu dan Buddha, tetapi juga membuat Melayu mengenal sistem kerajaan. Pengaruh Hindu-Buddha di Nusantara dapat dilihat dari keberadaan situs-situs kerajaan kuna, patung ganesha, lingga, dan patung-patung Buddha gaya Amaravati. Keberadaan benda-benda sejarah tersebut menunjukkan perkembangan pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha yang cukup signifikan pada abad itu. Pengaruh kebudayaan India terhadap masyarakat Melayu masih dapat kita jumpai hingga saat ini, seperti pada upacara-upacara adat, arsitektur bangunan, dan bahasa Melayu.

Ketiga
, Kebudayaan Cina dengan Konfusianismenya. Kontak antara Melayu dan Cina telah terjadi sejak lama. Bahkan, melalui catatan-catatan orang-orang Cina tersebut, kita dapat membaca perjalanan sejarah Melayu, misalnya adanya kerajaan Melayu Kuna di Jambi hingga Majapahit dan lain sebagainya.

Keempat, kebudayaan Timur Tengah yang Islam. Arab masuk ke Nusantara melalui jalur perdagangan sejak sekitar abad ke-11, dan berkembang semakin cepat mulai abad ke-13. Selain untuk berdagang, orang-orang Arab ini datang ke Nusantara dengan membawa agama Islam. Ada perbedaan pendapat antarpeneliti seputar dari mana Islam datang, dan siapa yang membawanya masuk ke Nusantara. Ada yang berpendapat bahwa Islam datang dari Cina, Gujarat, India, Persia atau Turki. Terlepas dari mana asalnya Islam yang berkembang di kawasan Melayu yang jelas karakter Islam yang mempengaruhi budaya Melayu adalah Islam berkarakter budaya yang beragam. Keberadaan agama ini sangat penting dalam sejarah perkembangan Melayu baik secara ekonomi maupun budaya. Jalinan perdagangan dengan masyarakat Timur Tengah yang beragama Islam bertemu dengan kekuatan budaya Melayu yang inklusif. Bahkan pada perkembangan lanjut budaya Islam akhirnya melekat sebagai identitas kemelayuan. Hal ini terjadi karena mereka berhadapan dalam persaingan dagang dengan kekuatan colonial Barat yang telah mampu menembus hingga wilayah Asia Tenggara.

Kelima
, Kebudayaan Eropa yang membawa agama Kristen-Katolik. Pertemuan Melayu dengan bangsa Eropa yang mayoritas beragama Kristen-Katolik terjadi bersamaan dengan kolonialisasi yang dilakukan oleh Barat. Sasaran orang-orang Eropa dalam menyebarkan agama baru adalah masyarakat pedalaman yang tidak tersentuh oleh persebaran Islam. Selain mengenalkan agama baru di kawasan Melayu, kedatangan orang-orang Eropa juga menghasilkan kebudayaan baru bagi Masyarakat Melayu, seperti cara berpakaian, sistem pendidikan, arsitektur, dan lain sebagainya.

Keberadaan pengaruh dari kelima peradaban di atas secara jelas menunjukkan bahwa Melayu mempunyai karakter yang terbuka terhadap pengaruh kebudayan lain. Dari penjelasan di atas kita ketahui bahwa kejayaan Melayu dapat diraih karena Melayu mempunyai daya serap yang tinggi terhadap unsur-unsur kebudayaan pendatang tersebut. Dengan kata lain, Melayu masa lampau mencapai kegemilangan kebudayaannya karena ia bersikap terbuka terhadap kebudayaan lain.

Dari kelima peradaban tersebut, Arab dengan agama Islamnya merupakan peradaban yang paling mempengaruhi perkembangan Melayu. Besarnya pengaruh Arab terhadap Melayu dapat dilihat dengan dijadikannya agama yang dibawa oleh orang-orang Arab, Islam, menjadi identitas kemelayuan. Mengapa Islam digunakan sebagai label orang Melayu? Islam yang bagaimanakah yang digunakan sebagai label Melayu? Penjelasan berikut akan menjelaskan kedua hal tersebut.

Islam Melayu: Islam yang Inklusif


Sebagaimana disebutkan di atas, Islam yang dibawa oleh pedagang dari Timur Tengah merupakan kebudayaan yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan peradaban Melayu. Besarnya pengaruh tersebut dapat dilihat dari penggunaan simbol-simbol Islam sebagai identitas Melayu. Islam yang manakah yang menjadi identitas Melayu? Dan mengapa Islam digunakan sebagai identitas Melayu?

Ada empat hal yang dapat digunakan untuk menjawab hal tersebut.

Pertama, Islam yang datang ke kawasan Melayu di saat itu, adalah Islam inklusif, yaitu Islam yang menghargai tradisi yang telah berkembang di kawasan Melayu. Ajaran Fiqh Islam menjelaskan bahwa dalam berinteraksi dengan masyarakat yang beragam perlu menggunakan Al Qur’an dan hadist atau ijtihad untuk menemukan kesesuaian dengan ajaran Islam. Atau dengan mengakomodir pengetahuan local atau Al Uruf, yaitu adat istiadat yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Dengan kata lain, Islam yang diterima oleh masyarakat Melayu saat itu adalah Islam yang menjadikan tradisi lokal semakin bermutu. Oleh karena menghargai tradisi lokal, maka Islam Tarekat diterima oleh Masyarakat Melayu. Jika Islam yang datang ke kawasan Melayu adalah Islam, syar’i seperti yang datang ke Minangkabau, maka cenderung akan memunculkan resistensi yang cukup kuat dari masyarakat.

Kedua, Islam bersifat egaliter dan populis. Islam tidak mengenal sistem kasta dan kependetaan, sehingga memungkinkan keterlibatan semua lapisan masyarakat dalam seluruh bidang kehidupan, termasuk pendidikan.

Ketiga, Islam mengenalkan dunia tulis menulis. Berkembangnya dunia tulis-menulis merupakan tahapan paling penting dalam sejarah perkembangan Melayu. Melalui dunia tulis menulis yang diperkenalkan oleh Islam (Arab), Melayu berkembang pesat menjadi pusat kebudayaan.

Keempat, Islam menjadi pendorong munculnya kesadaran nasional, memberikan landasan untuk hidup merdeka, dan menjadi landasan dasar perumusan etika bagi perilaku politik para penguasa di kerajaan. Gambaran tersebut, misalnya, tampak dalam pembahasan teks-teks Melayu Klasik, seperti Sejarah Melayu dan Hikayat Raja-raja Pasai.

Berdasarkan keempat hal tersebut, kita ketahui bahwa pengidentifikasian Melayu sebagai Islam merupakan salah satu tahapan dari sejarah perjalanan Melayu. Yang harus kita garis bawahi dari peristiwa tersebut adalah penerimaan Melayu terhadap Islam, karena Islam dapat mengakomodir nilai-nilai yang telah berkembang dalam masyarakat Melayu. Islam menjadikan Melayu mencapai masa keemasannya, dan Melayu menjadikan Islam semakin indah dan tidak kering.

Tantangan Kemelayuan dan Keislaman

Reformasi 1998 merupakan tonggal sejarah baru bagi perkembangan Melayu di Indonesia, yang telah memunculkan semangat untuk menunjukkan jati diri sebagai Melayu. Lembaga Adat Melayu bermunculan, identitas Melayu selalu ditunjukkan. Namun setelah 10 tahun reformasi, ternyata orang-orang Melayu belum juga mampu berhadapan dengan kekuatan global. Oleh karena itu, tugas utama yang diemban oleh puak-puak Melayu saat ini adalah bagaimana mengembalikan karakter inklusif Melayu. Menurut saya ada tiga hal yang harus dilakukan untuk mengembalikan karakter inklusif Melayu, yaitu: pertama, mengingatkan masyarakat Melayu untuk tidak melupakan sejarah bahwa peradaban Melayu dibangun dan diperkaya oleh lima peradaban dunia (pra-Hindu-Buddha, Hindu-Buddha, Cina, Arab, dan Eropa). Berdasarkan pemikiran ini, maka Melayu akan senantiasa terbuka untuk menerima nilai-nilai baru yang, tentu saja, sesuai dengan karakter Melayu; kedua, memposisikan Melayu sebagai jembatan semua kebudayaan dunia. Tidak hanya Islam, tetapi semua kebudayaan dunia tanpa melihat identitas agamanya apa; ketiga, menumbuhkan solidaritas antar puak-puak Melayu di seluruh dunia.

Terkait ketiga strategi tersebut, Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) Yogyakarta, pada tanggal 20 Januari 2007 meluncurkan portal data Melayu dan kemelayuan, www.melayuonline.com. Melalui penyajian data yang sistematis dengan berlandaskan pada geobudaya, www.melayuonline.com diharapkan mampu mengembalikan karakter inklusif Melayu.

Penutup

Karakter inklusif yang dimiliki Melayu merupakan penopang utama kejayaan Melayu di masa lalu. Oleh karena itu, sudah sepatutnya jika karakter tersebut digali dan direvitalisasi untuk mengembalikan kejayaan masa lalu di masa kini. Dengan meletakkan Melayu dalam paradigma inklusif, maka jati diri Melayu akan mampu menyerap nilai-nilai positif dari perkembangan zaman, dan menjadikannya sebagai modal untuk mengembalikan kejayaan Melayu.

----------------------------------------------------------------------------
Disampaikan pada Seminar Wacana Dunia Melayu “Unsur Keislaman dan Kemelayuan di Nusantara,” Alor Setar, Kedah, Malaysia, 11 Juni 2009.

Mahyudin Al Mudra adalah Pemangku Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) Yogyakarta dan Pimpinan Umum http://www.melayuonline.com/.

Dibaca : 2221

  Share  
Facebook



Berikan Komentar Anda:





11
Sahabat online

Hari ini : 359 Kemarin : 187 Minggu kemarin : 1.159 Bulan kemarin : 3.695

Anda pengunjung ke :
306.939

© 2010. All rights reserved.