Rabu, 22 November 2017

Pasang Surut Hubungan Melayu – Jawa Dalam Karya Sastra

PASANG SURUT HUBUNGAN MELAYU - JAWA DALAM KARYA SASTRA


Oleh: Mahyudin Al Mudra


Disampaikan dalam Seminar Internasional “Pemikiran Melayu-Jawa” di UNS Surakarta, tanggal 15 Juli 2009, yang diadakan oleh tiga serangkai antarabangsa, yaitu Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta (UNS), dan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Acara yang digelar di Fakultas Sastra dan Seni Rupa, UNS itu, menghadirkan empat pembentang kertas kerja antara lain Prof Dr Kunardi H MPd dari UNS-Surakarta, Prof Madya Dr Misran Rokimin dari Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA) UKM-Malaysia, Dr Aris Arif Mundayat dari Pusat Studi Sosial Asia Tenggara (PSSAT) UGM-Yogyakarta, serta Mahyudin Al Mudra SH MM dari Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) Yogyakarta. Moderator: Drs Hendrokumoro M Hum.


A. Pendahuluan

Pandangan Erosentrisme, yaitu cara berfikir berdasarkan perspektif teori-teori yang berkembang di Eropa tanpa mempertimbangkan perspektif lokal, telah menimbulkan dampak yang cukup serius terhadap pola pikir publik tentang kajian kemelayuan. Paradigma yang menjadi hasil proses kolonialisme Barat tersebut mengakibatkan terjadinya banyak salah kaprah yang menyesatkan pemahaman publik tentang Melayu. Dampak yang paling parah adalah terjadinya pengkotak-kotakan rumpun Melayu dan membatasinya dalam definisi-definisi yang dipecah-pecah dari perspektif linguistik, politik, geografi, etnis, dan bahkan agama. Bangsa Melayu serumpun yang pernah menjadi peradaban besar kini tercerai-berai dan terkungkung dalam eksklusifme yang justru melemahkan. Salah satu dampak yang bisa dikatakan paling menonjol akibat pengaruh paradigma Erosentrisme adalah nuansa sentimentil yang cukup lekat antara Melayu dan Jawa. Budaya Melayu dan Jawa sering dipersepsikan dan disalahpahami sebagai kebudayaan yang berbeda dan tidak punya hubungan antara satu dengan lainnya. Padahal, jika ditinjau dari dinamika historis, antara Melayu dan Jawa sudah terjalin relasi yang cukup intim dan erat.

Saling pengaruh dan mempengaruhi menjadi sesuatu yang lazim dalam perjalanan sejarah hubungan Melayu-Jawa. Ikatan hubungan ini meliputi banyak sektor, termasuk politik, pemerintahan, ekonomi, sosial, serta seni dan budaya. Silang hubungan antara Melayu dan Jawa dapat dilihat secara jelas pada karakter-karakter maupun nilai-nilai dalam kesenian, kesusastraan, dan ritual adat pada masing-masing kebudayaan tersebut. Catatan sejarah yang tertulis dalam naskah I La Galigo, epik sastra Bugis yang tertua dan terbesar (diperkirakan ditulis pada 200 Masehi), dapat disimpulkan bahwa kata Melayu merupakan identitas kesatuan dari seluruh suku-suku bangsa di nusantara. Selain itu, dalam rumpun bahasa ternyata juga banyak didapati keterkaitan antara bahasa Melayu dan bahasa Jawa. Bahasa Melayu merupakan akar dari bahasa Jawa yang sudah sangat banyak terpengaruh oleh bahasa Sanskerta (Hindu, Budha) dan kemudian bahasa Arab (Islam). Sementara di sisi lain, dokumentasi bahasa Jawa Kuna, yang dinilai paling baik, juga memberikan pegangan yang cukup mantap untuk studi sastra Melayu. (Pelly, www.MelayuOnline.com, 7 November 2005)

Menukil pemaparan Prof. Hanapi Dolla, pensyarah pada Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), hubungan antara Melayu-Jawa misalnya dapat dilihat dalam ritual-ritual khusus pada masyarakat Kelantan yang memang terlihat indikasi-indikasi bercampurnya dua kebudayaan ini. Prof. Hanapi mencontohkan bahwa dalam ritual Mai Peteri, Makyong, Menora, dan wayang kulit yang terdapat pada masyarakat Kelantan ternyata ditemukan banyak unsur kebudayaan Jawa yang telah terintegrasi dalam ritual-ritual tersebut. Bentuk integrasi ini dapat dilihat pada corak, bentuk, dan spirit budaya Jawa yang masuk ke dalamnya (www.MelayuOnline.com, 19 Juli 2008).


B. Jawa dalam Catatan Melayu

Persinggungan antara Melayu dan Jawa akan lebih banyak lagi ditemukan dalam karya-karya sastra, baik yang ditulis oleh para pujangga Melayu ataupun Jawa. Karya panjang dan legendaris Melayu, Hikayat Hang Tuah, bahkan dengan jujur menempatkan topik tentang relasi yang terjalin antara Melayu (Melaka) dan Jawa (Majapahit) ke dalam posisi yang cukup terhormat. Kisah-kisah tentang hubungan Melayu dan Jawa, yang terangkum dalam tajuk “Episode Majapahit”, menempati porsi terbanyak kedua dengan jumlah 160 halaman, sedikit di bawah penceritaan mengenai “Tanah Melayu” yang berjumlah 187 halaman.

Kendati hikayat bukanlah murni catatan sejarah yang dapat dipertanggung jawabkan kebenaran kejadiannya namun setidaknya hikayat, apalagi jika hikayat semonumental Hikayat Hang Tuah, dapat dijadikan referensi sebagai bukti bahwa pada masa tersebut sudah terdapat catatan-catatan yang menunjukkan bahwa telah terjadi relasi yang cukup intensif antara Melayu dengan Jawa. Selain itu, banyak sekali cerita-cerita dari Jawa yang disadur dan diceritakan kembali dengan gaya dan latar belakang Melayu oleh para pujangga Melayu. Akan tetapi, pada akhirnya kaum pujangga Melayu gelisah dan merasa selalu terhegemoni oleh kaum sastrawan Jawa. Untuk melawan hegemoni itu, kaum pujangga Melayu merasa tidak secara frontal, tetapi mereka memilih “berperang” dengan taktik lain yang justru unik namun memukul. Dalam karya-karya mereka, sastrawan Melayu seringkali mengagungkan dan menyanjung kebesaran Jawa (dalam hal ini Kerajaan Majapahit) justru secara berlebih-lebihan. Misalnya, ada cerita Melayu yang menyebutkan bahwa Kerajaan Majapahit telah berperang sebanyak 93 kali, dan 91 kali di antaranya menang. Pada kenyataannya, secara historis, Majapahit hanya berperang sebanyak 3 kali dengan hasil 1 kali menang, 1 kali kalah, dan 1 kali belum jelas hasinya. Dengan melambungkan kebesaran Majapahit, tentu saja para sastrawan Jawa semakin merasa di atas angin dan kian keras menepuk dada. Padahal, di balik kepuasaan mereka, para sastrawan Melayu menyikapinya dengan geli karena orang Jawa berpuas diri atas sanjungan yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Sebuah sanjungan yang bersifat sinical atau kebalikannya, karena citra Jawa yg kemudian muncul dari cerita-cerita tersebut adalah Jawa yang haus perang, imperialis, kolonialis dan gemar menaklukkan kerajaan-kerajaan lain.

Selain melalui catatan dalam bentuk karya sastra atau pun hikayat, hubungan antara Melayu dan Jawa juga tersurat dalam Sulalat al-Salatin (Sejarah Melayu) karangan Tun Seri Lanang. Dikisahkan bahwa ada salah seorang penguasa Kerajaan Majapahit yang ternyata putera dari Raja Tanjungpura, salah sebuah kerajaan Melayu yang berada di Kalimantan Barat. Kisah bermula ketika sang putera raja ini terpisah dari ayah dan ibundanya karena kapal mereka hancur diterjang badai di tengah lautan. Dengan menaiki sebilah papan, sang putera selamat meskipun kemudian dirinya hanyut selama tujuh hari tujuh malam hingga ditemukan oleh seorang petani/penyadap. Akhirnya, putera raja itu diangkat anak oleh si penyadap dan diberi nama Ki Mas Jiwa. Hingga kemudian, terdengarlah kabar bahwa Puteri Naya Kesuma, anak perempuan Raja Majapahit, sedang mencari calon suami. Sang panglima kerajaan, Patih Gadjah Mada, sendirilah yang mengumumkan berita itu. Ki Mas Jiwa, yang ikut menonton sayembara tersebut, ternyata yang menjadi pilihan sang puteri. Segera dilangsungkanlah pernikahan dan tidak lama kemudian Ki Mas Jiwa dinobatkan sebagai Raja Majapahit dengan gelar Sang Aji Ningrat (Tun Seri Lanang, 1997).

Sampai di sini dapat kita lihat, catatan yang tercantum dalam Sejarah Melayu pun sudah menyebut bahwa ada persinggungan antara keluarga Kerajaan Tanjungpura dan Kerajaan Majapahit, bahkan anak Raja Tanjungpura, jika boleh disebut sebagai “wakil” dari Melayu, mampu bertahta sebagai raja di Kerajaan Majapahit yang merupakan kerajaan terbesar di Jawa pada waktu itu. Selain itu, nama yang diberikan oleh penyadap kepada putera Raja Tanjungpura yang diangkat sebagai anak, dengan nama Ki Mas Jiwa, menunjukkan bahwa tempat terdamparnya sang putera Raja Tanjungpura adalah di suatu tempat di Tanah Jawa. Sebagai catatan, kembali terkait dengan hubungan Melayu-Jawa, Kerajaan Tanjungpura mengalami masa keemasan pada sekitar abad ke-14 dan menjadi kerajaan yang cukup besar di Kalimantan Barat. Sumber yang menyatakan tentang keberadaan Kerajaan Tanjungpura dapat ditemukan di kitab Negarakertagama karangan Mpu Prapanca pada masa Kertanegara (1268-1292) dari Singasari dan pada masa Kerajaan Majapahit dengan Sumpah Palapa Patih Mangkubumi Gajah Mada (Gusti Mhd Mulia, 2007).

Cerita Tun Seri Lanang dalam Sulalat al-Salatin masih berlanjut. Kejayaan Kerajaan Majapahit di bawah pimpinan Sang Aji Ningrat semakin besar, seluruh Jawa takluk ke Majapahit. Kebesaran Majapahit tersebar ke segala penjuru hingga ke negeri-negeri seberang. Raja Majapahit atau Sang Aji Ningrat dan Puteri Naya Kesuma dikaruniai seorang anak perempuan yang cantik rupawan, bernama Raden Galuh Cendera (Kirana). Kabar kecantikan sang puteri Majapahit terdengar sampai ke Kerajaan Melaka dan membuat Sultan Mansyur Syah berkehendak untuk meminangnya. Maka dititahkanlah oleh Raja Malaka itu satu rombongan besar untuk bersiap ke Majapahit, yang dipimpin oleh Hang Tuah, guna menyampaikan lamaran kepada sang puteri raja. Rombongan agung dari Melaka tersebut bertambah meriah karena Sultan Mansyur Syah mengajak serta kerajaan-kerajaan Melayu serumpun lainnya, termasuk Palembang, Indragiri, Jambi, Tungkal, dan Lingga. Pada waktu yang hampir bersamaan, datang pula rombongan dari Kerajaan Tanjungpura dan Daha ke Majapahit dengan maksud yang sama. Raja Majapahit ternyata lebih tertarik kepada Raja Melaka dibanding raja-raja lainnya yang turut hadir. “Terlalu sekali cerdik Raja Melaka ini daripada raja yang lain,” kata Sang Aji Ningrat yang kemudian memilih Sultan Mansyur Syah sebagai menantunya. Maka dilangsungkanlah pesta pernikahan antara Sultan Mansyur Syah dengan Raden Galuh Cendera. Terjadilah lagi interaksi yang intim antara Jawa dengan Melayu.

C. Melayu dalam Catatan Jawa

Sama halnya dengan versi Sejarah Melayu, kalangan pujangga Jawa pun mencatatkan hal yang sama dengan turut mengamini bahwa hubungan peradaban mereka dengan Melayu telah terjadi sejak lama dengan Hang Tuah kembali menjadi benang merahnya. Kemunculan tokoh Hang Tuah dalam cerita Jawa, seperti yang termaktub dalam karya sastra karangan Sumahatmaka berjudul Ki Ageng Drepayuda, di mana terdapat nukilan yang memuat nama Hang Tuah sebagai seorang pahlawan, berasal dari Palembang dan datang ke Tanah Jawa. Menceritakan kembali apa yang ditulis Sumahatmaka, Prof. Dr. Sulastin Sutrisno dalam karyanya bertajuk Hikayat Hang Tuah, Analisis Struktur dan Fungsi menjelaskan bahwa lukisan mengenai sifat-sifat Hang Tuah tidak berbeda dengan sifat-sifat duta Melayu itu dalam Hikayat Hang Tuah. Hal ini menarik karena kenyataan tersebut menandakan bahwa dalam karya sastra Jawa ini pun orang mengenal tokoh hamba Hang Tuah dengan perwatakannya seperti tercantum dalam tema pokok Hikayat Hang Tuah (Sutrisno, 2008: 389).

Tidak hanya lewat catatan-catatan sastra lama saja kita dapat melacak jejak-jejak hubungan antara Melayu. Karya sastra kontemporer pun turut menggoreskan tinta sejarah sebagai penegasan bahwa bangsa Melayu dan Jawa bukanlah peradaban yang berdiri sendiri-sendiri dalam satu tanah kepulauan, melainkan saling memberi dan saling menerima. Pramoedya Ananta Toer, salah seorang sastrawan terbesar yang dimiliki Indonesia, menggemakan hubungan Melayu-Jawa melalui salah satu roman historisnya, Arus Balik: Sebuah Epik Maritim Nusantara, yang tebalnya 724 halaman, diterbitkan pada 1995.

Novel sejarah ini memperlihatkan usaha Pramoedya mengembalikan ingatan terhadap kehebatan Nusantara, terutama Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Malaka, juga tentang kejatuhan kedua kerajaan itu di tangan penjajah Portugis. Pramoedya berkisah bagaimana Kesultanan Malaka dan Kerajaan Tuban saling bahu-membahu untuk mengusir Portugis dari Tanah Melayu. Kerjasama ini cukup erat di mana seorang panglima Majapahit, oleh Pramoedya disebut sebagai Wiranggaleng, menjadi tokoh yang berperan cukup sentral dalam usaha penggalangan kekuatan dengan Kerajaan Malaka. Bahkan, karena besar jasa-jasanya, pada akhirnya Wiranggaleng, yang dicitrakan sebagai orang Jawa, dianugerahi panggilan terhormat khas Melayu dengan penyematan nama sebagai ‘Hang’ Wira. Patut dicatat, roman-roman sejarah karya Pramoedya, termasuk Arus Balik, Tetralogi Pulau Buru, dan lain-lainnya, telah mendunia dan menjadi inspirasi banyak bangsa di dunia, terutama bangsa-bangsa yang bermukim di wilayah Asia Tenggara.

D. Penutup: Meluruskan Salah Kaprah Bangsa Serumpun

Selain pengakuan eksistensi, kesusastraan Melayu dan Jawa juga mempunyai beberapa kemiripan, terutama dalam karya sastra yang mengangkat tema sufistik dan mistik, seperti yang terdapat dalam syair-syair Hamzah Fansuri dan Abdulkadir Munsy sebagai wakil dari Melayu dengan serat-serta pujangga Jawa kenamaan Ronggowarsito. Kesamaan-kesamaan ini, mengutip uraian Drs. Istidiyanta MS, Dosen Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta, tentu memiliki akar sejarah yang panjang. Beberapa penemuan tentang kesamaan setidaknya dapat dijadikan refleksi ulang bahwa budaya Melayu dan Jawa bukan merupakan sebuah identitas kultural yang terpisah sama sekali. Bangsa Melayu dan Jawa beserta kebudayaannya pada akhirnya merupakan sebuah entitas budaya yang saling berkaitan kendati hingga sekarang masih banyak kesalahpahaman budaya dari dua masyarakat ini (www.MelayuOnline.com , 18 Juli 2008).

Salah kaprah yang terjadi selama ini dalam memahami hubungan antara Melayu dan Jawa sangat perlu untuk diluruskan. Inilah efek negatif dari pemahaman Erosentrisme yang memposisikan bangsa Melayu dan Jawa seolah-olah berdiri di dua kubu yang saling ‘vis a vis’ berseberangan. Paradigma Barat yang ditanamkan melalui proses selama ratusan tahun menimbulkan suasana harmonis yang pernah terjadi antara Melayu dan Jawa menjadi tidak terasa lagi. Akibatnya, dua kebudayaan besar itu seolah-olah selalu bersaing dan saling meremehkan, bahkan cenderung mengutamakan ego dan sentimen demi keunggulan bangsanya sendiri kendati sesungguhnya kedua peradaban itu masih terhitung satu rumpun.

Sejauh ini, wacana tentang perlawanan terhadap Erosentrisme memang sudah banyak dilaungkan, namun tidak banyak tindakan lanjut konkret yang kemudian dilakukan. Salah satu dari sedikit gerakan nyata yang benar-benar ditujukan untuk melawan Erosentrisme adalah peluncuran situs www. MelayuOnline.com yang ditubuhkan pada 20 Januari 2007. Portal Melayu se-dunia ini merupakan buah progresif dari Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) yang didirikan di Yogyakarta pada 4 Juli 2003. MelayuOnline.com dinilai memiliki kekuatan yang mampu diandalkan untuk mengefektifkan hubungan antar puak-puak Melayu yang terserak di seantero dunia. MelayuOnline.com memaknai Melayu sebagai sebuah kultur, bukan Melayu sebagai suku, etnis, agama, atau entitas budaya dalam arti sempit lainnya. Melayu dalam paradigma MelayuOnline.com dimaknai sebagai setiap tempat, komunitas, kelompok masyarakat ataupun daerah di belahan dunia manapun yang masih atau pun pernah menjalankan tradisi dan adat-istiadat Melayu.

Jika Jawa tidak mau disebut sebagai bagian dari Melayu, dan begitu pula sebaliknya, Melayu enggan digolongkan sebagai “koloni” dari kekuasaan Jawa, maka dengan adanya MelayuOnline.com pengklasifikasian ala Erosentrisme bisa diminimalisir dengan mengemukakan perspektif lokal yang setara dengan teori-teori dari Barat. MelayuOnline.com menjembatani perbincangan tentang sejarah dan asal-usul antara Melayu dan Jawa sebagai satu bangsa besar yang serumpun. Sebagai contoh, meski membawa nama “Melayu”, MelayuOnline.com diterima dalam berbagai acara-acara kebudayaan Jawa di Yogyakarta maupun berbagai tempat lainnya. Pemahaman MelayuOnline.com tentang dunia Melayu tidaklah eksklusif dan sesempit yang selama ini dianut oleh banyak pihak yang belum tercerahkan. Tidak ada pembedaan antara Melayu dan non-Melayu atau Jawa dan non-Jawa. Melayu adalah Jawa, begitu pula sebaliknya bahwa Jawa adalah Melayu, karena pada hakikatnya baik Melayu ataupun Jawa adalah satu bangsa serumpun yang memiliki banyak kesamaan dan kesesuaian.

Referensi:
-------. “Mempertemukan Jawa-Melayu melalui Togog dan Belung”, tersedia di http://news.melayuonline.com/?a=UE5UVC91UGlaM1ZBY2E%3D%3D, tanggal 19 Juli 2008, data diunduh pada 8 Juli 2009.
-------. “Arus Balik Imbau Sejarah Nusantara”, tersedia di http://www.radix.net/~bardsley/utusan.html, data diunduh pada 8 Juli 2009.
-------. “Silang Pemikiran Budaya Melayu-Jawa, tersedia di http://news.melayuonline.com/?a=UFBUVC91UGlaM1ZBY2E%3D, 18 Juli 2008, data diunduh pada 8 Juli 2009.
Lanang, Tun Seri. Sulalat al Salatin (Sejarah Melayu). Kuala Lumpur: Yayasan Karyawan dan Dewan Bahasa dan Pustaka Kuala Lumpur, 1997.
Mulia, Gusti Mhd. Sekilas Menapak Langkah Kerajaan Tanjungpura. Pontianak: Firma Muara Mas, 2007.
Munsji, Abdullah ibn Abdukadir. Sedjarah Melaju. Jakarta: Penerbit Djambatan, 1953.
Pelly, Usman, Prof. Dr. “Menemukan Kembali Dunia Melayu”, tersedia di http://melayuonline.com/opinion/?a=RlBUL3FMZVZBUkU4Ng%3D%3D%3D&l=menemukan-kembali-dunia-melayu, data diunduh pada 8 Juli 2009.
Sutrisno, Sulatin, Prof. Dr. Hikayat Hang Tuah, Analisis Struktur dan Fungsi. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan Adicita Karya Nusa, 2008.

-------------------------------------
Mahyudin Al Mudra adalah Pemangku balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu, Yogyakarta.


Catatan: paper ini masih merupakan kajian awal, yang dipersiapkan untuk sebuah seminar. Masih akan disempurnakan lagi dengan data-data dan analisis yang mendukung hipotesis awal. Oleh karena itu, dimohon tidak mengutip naskah ini untuk kepentingan akademis baik untuk sebagian atau seluruhnya .

Dibaca : 3301

  Share  
Facebook



Berikan Komentar Anda:





12
Sahabat online

Hari ini : 361 Kemarin : 187 Minggu kemarin : 1.161 Bulan kemarin : 3.695

Anda pengunjung ke :
306.941

© 2010. All rights reserved.